Confucius Institute Unesa Hadiri Perayaan Confucius Institute Day Bertajuk The 6th Spirit of Bandung

Bandung, 25-26 September 2024 – Confucius Institute Unesa turut hadir dalam perayaan Confucius Institute Day yang bertajuk The 6th Spirit of Bandung. Acara yang berlangsung di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Kristen Maranatha dengan Hebei Normal University, Tiongkok. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan kerja sama internasional di bidang pendidikan Mandarin dan kebudayaan, sekaligus merayakan peran penting Confucius Institute dalam mengembangkan pengajaran bahasa dan budaya di Indonesia.
Perayaan yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh pimpinan Universitas Kristen Maranatha, Hebei Normal University, pengelola Confucius Institute dari seluruh Indonesia, serta perwakilan dari mitra titik ajar Mandarin. Acara dibuka dengan sambutan Rektor Universitas Kristen Maranatha yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas budaya dan pendidikan, di mana Confucius Institute berperan sebagai jembatan antara Indonesia dan Tiongkok. Pimpinan Hebei Normal University dalam sambutannya menyoroti bagaimana kerja sama di bidang pendidikan telah menjadi fondasi kuat untuk mempererat hubungan kedua negara.
Dalam sesi panel yang diadakan pada hari pertama, berbagai topik terkait transformasi digital dan teknologi dalam pendidikan dan kebudayaan dibahas oleh para pakar. Salah satu sesi panel membahas penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan Mandarin, di mana para panelis menjelaskan bagaimana teknologi ini dapat mempercepat proses belajar-mengajar bahasa. Selain itu, Direktur Saung Angklung Udjo memberikan wawasan tentang transformasi digital dalam mempromosikan seni budaya tradisional Indonesia, serta dampaknya dalam melestarikan budaya lokal di era modern. Tidak hanya soal pendidikan, topik kesehatan mental juga menjadi bagian dari diskusi, di mana panelis menekankan pentingnya teknologi dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.
Pada hari kedua, sesi paralel dibagi menjadi tiga topik utama, yakni Transformasi Digital dalam Pembelajaran Bahasa Mandarin, Menuju Masyarakat Sejahtera, dan Sains dan Teknologi untuk Lingkungan yang Sehat. Confucius Institute Unesa, yang diwakili oleh Direktur Indonesia, Sueb, berpartisipasi dalam sesi paralel yang berfokus pada Menuju Masyarakat Sejahtera. Dalam paparannya, Sueb membahas pentingnya kerja sama inklusif antara CI Unesa dengan lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama di Indonesia. “Kerja sama inklusif menjadi titik awal dalam membangun transformasi paradigma positif dan saling menghargai antarbudaya,” ujar Sueb. Ia menekankan bahwa melalui pendidikan Mandarin dan kegiatan budaya, Confucius Institute Unesa telah berhasil menciptakan ruang dialog yang lebih luas, mendorong masyarakat untuk lebih terbuka terhadap budaya asing dan memperkuat kolaborasi lintas budaya.
Acara The 6th Spirit of Bandung ini kemudian ditutup dengan kunjungan budaya ke Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA). Para peserta mendapat kesempatan untuk menggali lebih dalam sejarah penting dari Five Principles of Peaceful Coexistence, yang menjadi landasan hubungan diplomatik antara banyak negara, termasuk Indonesia dan Tiongkok. Museum ini juga memberikan perspektif tentang bagaimana sejarah diplomasi multilateral menjadi fondasi perdamaian global.
Melalui perayaan ini, Confucius Institute Unesa berharap dapat terus memperkuat kerja sama di bidang pendidikan dan budaya dengan Tiongkok, serta mengembangkan inovasi baru dalam pengajaran Mandarin yang berfokus pada teknologi dan keberagaman budaya. The 6th Spirit of Bandung tidak hanya menjadi ajang pertukaran budaya, tetapi juga platform untuk memperkuat kemitraan antara berbagai lembaga pendidikan di Indonesia dan Tiongkok, serta memajukan upaya transformasi digital yang dapat membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruha
Share It On: